People Innovation Excellence

Merangkai Epik di Kepulauan Komodo

“Epic” – istilah yang saya pilih untuk menggambarkan penjelajahan di Destinasi Komodo melalui program yang disponsori oleh sebuah majalah internasional di Indonesia dan produk perawatan tubuh untuk pria. Sebuah rangkaian kisah tentang petualangan berpadu keindahan yang melahirkan inspirasi untuk berbagi dengan warga lokal.

Apa yang penulis Paulo Coulho goreskan dalam tulisannya, Sang Alkemis, menjadi sangat personal bagi saya, “Kalau kau begitu menginginkan sesuatu, maka alam akan bersatu padu mewujudkan keinginanmu itu”. Beberapa bulan sebelum mengetahui tentang Black Trail, gagasan mengunjungi TN Komodo lahir dan berkembang menjadi sebuah obsesi yang mengusik benak tanpa jeda. Daftar, berdoa, dan lupakan – bisik saya pada diri sendiri ketika mendaftar pertama kali secara online.

Mungkin Coulho benar. Mimpi dan upaya itu ternyata membuahkan hasil yang manis. Setelah melalui proses yang mencakup penulisan essay serta wawancara berdasarkan curriculum vitae beserta 10 finalis lainnya, akhirnya pihak sponsor memutuskan saya dan empat pemenang lainnya untuk berangkat dan berpetualang ke TN Komodo pada tanggal 27 – 30 Agustus 2012.

Setelah mengikuti briefing pra-keberangkatan dari tim penyelenggara, akhirnya kisah pun dimulai.

Hari I: Menguak Misteri Goa Batu Cermin
Senin dini hari seluruh rombongan yang berjumlah 17 orang (mencakup para pemenang Black Trail, perwakilan sponsor ditambah tim event organizer yang akan membantu kelancaran perjalanan kami) berkumpul di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta untuk menaiki pesawat menuju Denpasar pukul 6 pagi. Setelah terbang selama lebih kurang dua jam, kami tiba untuk transit di Bandara Ngurah Rai di mana Nicholas Saputra, brand ambassador produk sponsor, bergabung. Rencananya, dalam program ini juga akan dilakukan pengambilan gambar untuk acara Teroka on the Weekend yang dipandu oleh host Cahyo Alkantana dan akan disiarkan melalui salah satu stasiun televisi nasional.

Adrenalin saya sempat terpicu ketika pesawat baling-baling pesawat yang akan membawa kami menuju Labuan Bajo, Flores, lepas landas. Entahlah, imajinasi ini terasa lebih sulit dikendalikan ketika berada di dalam pesawat baling-baling. Akan tetapi, panorama Kepulauan Sunda Kecil yang dilihat dari ketinggian membuat saya lupa akan hal itu. Satu per satu, pulau-pulau kecokelatan itu dilalui – mulai dari puncak Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, dan pulau-pulau kecil di perairan Komodo, sebelum pesawat akhirnya mendarat di Bandara Komodo sekitar satu jam dua puluh menit kemudian. Welcome to Labuan Bajo, Flores!

11Gambar 1 Salah satu pulau di Kepulauan Komodo dari udara (foto: TAP)

Pahatan berbentuk dua ekor Komodo dekat papan selamat datang menyambut kami. Setelah rombongan selesai mengurus barang-barang bawaan, kami meluncur dengan tim lokal menuju hotel untuk check in dan rehat sejenak. Pada pukul 15, penjelajahan pertama dimulai dengan mengunjungi Goa Batu Cermin, sekitar empat km dari hotel. Menyusuri jalan setapak sejauh 300 meter di dalam kawasan objek ini, kami disuguhi pemandangan cukup unik di kedua sisi dengan pepohonan bambu kering yang membungkuk seakan menaungi jalan setapak. Dedaunan kering berwarna kecokelatan berserakan di kawasan ini, menciptakan pemandangan bak musim gugur di belahan dunia dengan empat musim. Tentu saja kesempatan itu tidak dilewatkan – saya segera mengambil foto pertama.

1Gambar 2 Jalan setapak menuju Goa Batu Cermin (foto: TAP)

Goa Batu Cermin sendiri merupakan goa batu kapur sepanjang lebih kurang 200 meter dan setinggi 75 meter dengan banyak lorong sempit dan rendah. Ditemukan pada tahun 1951 oleh Theodore Verhoven, seorang pastur Belanda sekaligus arkeolog, goa ini diperkirakan merupakan bagian dari palung laut ribuan tahun yang lalu. Terkadang, kami menjumpai beberapa ruangan lebar, di mana stalagtit dan stalagmit bermunculan dari langit-langit dan dasar goa. Imajinasi pun bermain – membayangkan diri berada di antara taring-taring mulut buaya raksasa. Yang juga menarik adalah menempelnya fosil terumbu karang dan satwa penyu yang telah membatu di sejumlah bagian.

Selama beberapa saat, saya dan rombongan mengeksplor bagian dalam goa. Beberapa lorong sangat sempit dan rendah, memaksa kami mengatur strategi dalam menyusurinya. Salah perhitungan sedikit saja beberapa anggota badan, termasuk kepala, bisa terantuk atau tergores batu kapur. Walau suhu udara saat itu sempat membuat peluh bercucuran, kami mendapatkan beberapa bagian goa yang gelap, lembab, dan sejuk. Di sebagian ruang goa yang gelap terdapat sejumlah lubang di mana sinar matahari menerobos masuk. Apabila hujan dan terdapat genangan air di dasar goa, pengunjung dapat melihat bayangan wajahnya sendiri. Konon karena itulah goa ini dinamakan Goa Batu Cermin – sebuah jawaban terhadap pertanyaan yang sempat muncul di awal.

2Gambar 3 Salah satu sudut Goa Cermin (foto: TAP)

Penelusuran lorong-lorong curam dan gelap Goa Batu Cermin mengakhiri petualangan Black Trail di hari pertama. Selanjutnya kami kembali menuju Pantai Labuan Bajo untuk makan malam. Pantai tenang dengan latar belakang panorama senja berawan telah menunggu kami. Sebuah kapal kayu nelayan terbujur sendirian dekat dengan restoran tempat kami akan makan. Sejumlah pulau di kejauhan tampak samar di balik sapuan tipis kabut laut. Beberapa kapal kecil dan yacht, serta sejumah kecil nelayan terlihat membentuk bayangan siluet. Sesekali awan membuka dirinya memperlihatkan matahari senja yang bersiap untuk kembali ke peraduannya. Senda gurau wisatawan mancanegara sayup-sayup terdengar di sekitar restoran kami hinga akhirnya sunyi ketika sang surya betul-betul menghilang di balik horizon. Makan malam lezat a la Italia di sebuah restoran lokal akhirnya menutup hari pertama petualangan kami di TN Komodo.

Hari II Menaklukkan Puncak Pulau Lawadarat
Agenda hari kedua lebih banyak mengeksplor perairan TN Komodo. Karena saya dan dua pemenang lainnya tidak memiliki pengalaman diving 1000 jam (yang menjadi syarat wajib untuk melakukan diving), maka kami baru meninggalkan hotel menuju Pelabuhan Labuan Bajo pukul 9 pagi. Sementara dua pemenang lainnya bersama Cahyo Alkantana, Nicholas Saputra, Michael dan Glenn Sjukrie (dive master, fotografer, videografer), serta tim program Teroka telah berangkat lebih awal untuk menyelam sekaligus mengambil gambar di Tatawa Besar, yang terkenal akan pesona pemandangan karang dasar lautnya.

Kota Labuan Bajo sendiri terletak di ujung barat daya Pulau Flores dan menjadi titik keberangkatan orang-orang yang akan berkunjung ke TN Komodo. Kota ini diapit oleh pantai di satu sisi dan bukit di sisi lainnya. Beruntung saat itu pengaruh musim kemarau masih terasa sehingga udara – secara mengejutkan – terasa sejuk. Pelabuhan Labuan Bajo pagi itu tampak cukup hidup dengan para pekerja pelabuhan bercampur dengan wisatawan yang akan berangkat dengan perahu – walau tidak seramai pelabuhan pada umumnya di Pulau Jawa. Kapal motor yang akan kami tumpangi sudah menunggu – salah satu jenis perahu wisatawan, berlantai tiga, dan terbuat dari kayu. Lantai paling atas memiliki anjungan ruang kendali serta geladak untuk duduk-duduk santai. Lantai kedua merupakan tempat untuk makan dengan dapur dan dua kamar mandi. Sedangkan lantai ketiga – atau yang paling bawah – merupakan lambung kapal dengan bilik-bilik tempat tidur. Dalam kapal inilah kami akan tinggal seharian dan bermalam (live aboard).

12Gambar 4 Kapal membelah Kepulauan Komodo (foto: TAP)

Perjalanan selama lebih kurang dua jam membawa kami menuju Pulau Lawadarat, sebuah pulau kecil di utara Pulau Komodo, bersebelahan dengan Pulau Lawalaut. Langit cerah menaungi perjalanan kami di atas perairan biru pekat dengan panorama pulau-pulau kering bernuansa cokelat muda. Angin bertiup lembut menyapa wajah-wajah kami di tengah perairan.

Matahari sudah tinggi ketika perahu kami tiba di sebuah teluk di Pulau Lawadarat. Di sini kami berenang dan melakukan snorkelling. Bersihnya perairan setempat sangat memesona. Dalam perairan teluk berwarna emerald terlihat sejumlah rombongan ikan berenang hilir mudik di antara kaki-kaki kami tanpa rasa takut, seakan kami adalah bagian dari mereka. Beberapa jenis burung laut tampak sesekali melayang bebas di atas kami.

5Gambar 5 Pantai Lawadarat yang bersih (foto: TAP)

Menjelang sore, rombongan para diver bergabung dengan kami. Gagasan naik ke puncak Bukit Lawadarat muncul secara spontan hanya beberapa saat sebelum matahari terbenam. Kami merasa penasaran dengan panorama alam sekitar bila dilihat dari ketinggian puncaknya. Dengan menyusuri jalan setapak yang sudah terbentuk, kami menaiki puncak bukit berumput kering yang menjulang setinggi 700 meter. Semakin mendekati puncak, semakin curam dan semakin berbatu kondisinya sehingga medorong kami untuk lebih berhati-hati dan memasang taktik. Akan tetapi, kecantikan pemandangan sekitar dari atas bukit menjadi hadiah yang jauh melampaui bayangan kami. Kami betul-betul dibuat terpana dengan pemandangan perairan dalam gradasi warna biru di bawah kami, dengan kapal kami yang tampak bagai titik hitam dari kejauhan, serta sebaran pulau-pulau terdekat berwarna cokelat keemasan berlatarbelakang langit senja kemerahan. Bagi saya, saat itu adalah moment yang sangat personal – ketika saya berada di alam terbuka di atas ketinggian dengan panorama bak nirwana sejauh mata memandang.

6Gambar 6 Panorama teluk Lawadarat yang memukau (foto: TAP)

Matahari hampir saja menghilang di balik batas bumi ketika kami mulai menuruni bukit. Dalam kegelapan, kami hampir merangkak menyusuri jalan setapak yang curam dan berbatu. Dalam keadaan itulah kebersamaan mulai terasa, ketika kami menolong satu sama lain menuruni bukit. Kami berseloroh bahwa itulah pengalaman yang mencerminkan ‘black trail’ sesungguhnya, menyusuri jalan setapak dalam ‘kegelapan’.

Di bawah langit TN Komodo berhias rembulan redup malam itu, seluruh rombongan Black Trail menikmati kebersamaan sambil makan malam, berbagi cerita, dan berkelakar. Menjelang tengah malam, satu per satu anggota rombongan menghampiri bilik tidurnya masing-masing untuk beristirahat hingga kesunyian menyatu dengan perairan setempat. Ya, hanya kami dan alam di sekitar kami. Betul-betul pengalaman yang langka bagi saya.

Hari III ‘Up Close and Personal’ dengan Si Kadal Raksasa
Hari ketiga ibarat puncak penjelajahan kami di TN Komodo, dengan agenda mengunjungi Pulau Komodo dan Pulau Rinca, dua pulau terbesar di taman nasional ini sekaligus dengan populasi hewan Komodo terbesar.

Sekitar pukul lima pagi, saya terbangun oleh suara asing berupa deru mesin. Badan pun terasa sedikit terayun. Sejenak saya berusaha mengingat di mana saya berada saat itu. Setelah sadar bahwa saya berada di dalam sebuah kapal di perairan Komodo, saya bergegas turun dari tempat tidur. Saya tidak ingin melewatkan panorama perairan Komodo dalam gelapnya dini hari dari kapal yang sedang berjalan.

Perahu kami memang baru saja beranjak meninggalkan teluk Lawadarat menuju Loh Liang, Pulau Komodo. Dalam gelapnya dini hari, saya menyaksikan pulau-pulau yang dilalui oleh perahu kami. Rasa aneh bercampur takjub memenuhi benak saya. Pulau-pulau tanpa penghuni itu tampak misterius dalam kegelapan. Perlahan matahari muncul dan satu per satu anggota rombongan terbangun. Beberapa aktifitas pagi itu seperti sarapan dan mengambil gambar alam sekitar kami lakukan sebelum kapal akhirnya mendekati dermaga Loh Liang.

13Gambar 7 Melintasi pulau di Perairan Komodo (foto: TAP)

Pulau Komodo tampak eksotis ketika kapal kami mendekat – identik dengan image pulau-pulau terpencil di daerah tropis dalam film-film barat yang pernah saya saksikan. Rasanya tidak percaya bahwa saya akan mendarat di pulau tempat hewan langka yang selama ini hanya saya lihat gambarnya melalui foto-foto dan film-film dokumenter di televisi. Walau profesi saya banyak memberi saya kesempatan untuk bepergian ke berbagai tempat, Pulau Komodo belum termasuk dalam daftar lokasi yang pernah saya kunjungi.

7Gambar 8 Dermaga Loh Liang di Pulau Komodo (foto: TAP)

Kapal yang lebih kecil menjemput kami. Kapal yang lebih besar dilarang mendekat agar jangkarnya tidak merusak terumbu karang setempat. Pantai Pulau Komodo tampak seperti kebanyakan pantai yang pernah saya kunjungi, dengan pasir putih dan barisan pepohonan. Yang membedakan, tidak tampak aktifitas nelayan atau wisatawan. Setelah berjalan menyusuri dermaga, kami langsung disambut tim ranger (pemandu) setempat dan diberikan penjelasan umum tentang hewan Komodo berikut petunjuk selama mengikuti trekking. Maklum, pulau yang kami kunjungi itu merupakan habitat dari hewan buas yang bisa menyerang kapan pun.

8Gambar 9 Trekking di Pulau Komodo (foto: TAP)

Pulau Komodo, seluas 33.937 Ha, bersama Pulau Rinca, 19.625 Ha, adalah dua pulau terbesar di TN Komodo di mana populasi hewan Komodo (Varanus Komodoensis) memiliki jumlah paling besar. Diperkirakan jumlahnya masing-masing mencapai 1009 dan 1001. Bersama pulau-pulau kecil lainnya, mereka membentuk taman nasional kepulauan seluas 173.300 Ha – 1.817 km persegi masuk sebagai kawasan yang dilindungi dalam daftar Pusaka Dunia UNESCO pada tahun 1986.

Kekhawatiran akan munculnya hewan ini secara tiba-tiba ketika trekking menghantui pikiran saya. Maklum, gigitan hewan ini bisa mengakibatkan kematian karena beragam bakteri yang hidup dalam liurnya. Akan tetapi, kami tetap bertekad untuk melihat hewan itu dengan mata kepala sendiri, terlebih seorang ranger berpengalaman memandu trekking kami. Dalam perjalanan kami sempat melihat sekelompok rusa yang sedang minum dari sumber air buatan. Menyusuri jalan setapak di antara semak belukar, kami akhirnya tiba di perbukitan di mana dapat dilihat hamparan lautan membentang di bawah kami.

Sayangnya, kami tidak melihat hewan tersebut dalam perjalanan. Barulah ketika trekking berakhir di titik keberangkatan semula, kami melihat sekitar lima ekor Komodo tengah berbaring santai di dekat pemukiman para ranger. Menurut ranger yang memandu kami, seringkali beberapa Komodo datang ke area itu karena mencium bau makanan yang dimasak di dapur. Walau Komodo terlihat malas, kami diperingatkan untuk tidak terlalu dekat karena hal itu bisa menipu. Salah satu trik Komodo dalam menyerang mangsanya adalah dengan berbaring hingga mangsa (biasanya hewan seperti rusa dan kerbau) dianggapnya cukup dekat untuk diserang.

9Gambar 10 Sepasang komodo sedang memadu kasih (foto: TAP)

Bagi saya, itu adalah the moment of truth – ketika untuk pertama kalinya saya melihat Komodo langsung dengan mata kepala sendiri. Di satu sisi, eforia menguasai diri saya, di sisi lain saya berusaha untuk berpikir logis bahwa hewan yang saya lihat hanya sekitar 3,5 meter di hadapan saya ibarat biawak dalam ukuran yang lebih besar, rata-rata mencapai panjang tiga meter dan berat 90 kg ketika dewasa.

Kunjungan singkat ke Pulau Komodo dilanjutkan dengan kunjungan ke Pulau Rinca. Dalam perjalanan, kapal berhenti untuk memberikan kesempatan bagi rombongan untuk melakukan snorkeling di Pantai Merah (Pink Beach). Masih bagian dari Pulau Komodo, Pantai Merah adalah titik favorit bagi wisatawan untuk berenang dan snorkeling karena pemandangan bawah lautnya yang memesona. Pada sore yang cerah, biasanya warna daratan setempat menjadi kemerahan akibat sinar matahari yang menerpa pasir pantai dan rerumputan kering di lokasi itu.

Menjelang sore, kami tiba di dermaga Loh Buaya di Pulau Rinca. Yang menarik di sini, selain Komodo, adalah perbukitan sabana di mana pengunjung dapat melakukan trekking dan melihat panorama teluk. Lagi-lagi kami dibuat takjub dengan keindahan alam setempat. Ketika berada di atas bukit, kami disuguhi perbukitan luas berumput rendah dan berwarna keemasan tertimpa sinar matahari sore. It’s postcard perfect!

10Gambar 11 Panorama teluk di Pulau Rinca (foto: TAP)

Menjelang gelap, kami bergegas kembali ke perahu untuk meninggalkan Pulau Rinca kembali menuju Labuan Bajo. Sejumlah kera tampak turun ke dermaga mengantar kepergian kami. Kunjungan ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca ibarat klimaks petualangan kami selama tiga hari itu – sebuah penutup epik yang sangat berkesan dan akan menjadi kenangan tak terlupakan.

Kembali ke tempat asal saya di Bandung, perjalanan ini tidak saja telah membuahkan kenangan manis tetapi juga melahirkan inspirasi tersendiri. Sebuah perpaduan antara petualangan dan pesona, sekaligus rekreasi dan edukasi yang memunculkan gagasan akan pentingnya menikmati pusaka alam secara bertanggungjawab seraya melestarikannya. Ide untuk berkontribusi dengan cara dan keahlian sendiri terhadap kepariwisataan setempat akhirnya muncul. Saya ingin membantu para ranger setempat dalam hal peningkatan keahlian dalam hal interpretasi dan Bahasa Inggris – yang diakui oleh para ranger itu sendiri sebagai salah satu kelemahan mereka saat ini. Dimulai dengan mengirim kamus saku melalui jasa pengiriman, saya berharap dapat kembali ke sana suatu saat untuk membantu meningkatkan kapasitas ranger sebagai ambassador TN Komodo. Harapannya, dengan kemampuan interpretasi dan bahasa asing yang meningkat serta pemahaman akan pelestarian pusaka, akan meningkatkan kepuasan pengunjung dan mendorong keberlanjutan pariwisata setempat.


Published at :
Written By
Teguh Amor Patria, A.Par., PGDip, MPPar.
Research Coordinator
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close