Gambaran Umum Wilayah
Gunung Padang berlokasi di Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur yang terletak sekitar 50 km di sebelah barat daya Cianjur, yaitu sekitar 6°57´LS 107°1´BT. Mata pencaharian penduduk setempat adalah bercocok tanam padi, berkebun, dan berdagang. Sedangkan mata pencaharian penduduk di sekitar lokasi situs adalah selain sebagai pemilik penginapan dan warung makan serta menjual barang-barang cindera mata, juga sebagai penarik ojek dari pintu masuk ke lokasi situs, penjaga MCK, dan juga sebagai pemandu wisata (guide) ke dalam lokasi situs. Punden berundak Gunung Padang dibangun di puncak bukit dengan ketinggian 885 m diatas permukaan laut dari perhitungan altimeter. Lokasi tersebut dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam dan bukit-bukit yaitu:

1. Sebelah Tenggara : Gunung Melati
2. Sebelah Timur Laut : Pasir Malang
3. Sebelah Barat Laut : Pasir Pogor dan Pasir Gombong
4. Sebelah Barat Daya : Pasir Empat dan Gunung Karuhun

Di sebelah barat laut Gunung Padang terdapat lembah yang dalam, memanjang dari barat daya hingga ke timur laut. Di lembah tersebut terdapat desa Cimanggu, Ciwulan dan Cipanggulan yang merupakan desa terdekat dengan situs Gunung Padang. Daerah ini dilalui Sungai Cicohang di sebelah barat laut dan Sungai Cimanggu di sebelah timur. Situs ini juga dilengkapi dengan prasarana yang cukup lengkap, yaitu tempat parkir yang luas, fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang terawat dan bersih, beberapa warung yang menyediakan makanan sederhana seperti mi instan, bubur ayam, minuman botolan, snack dan makanan kecil. Selain itu juga disediakannya penginapan murah dengan kapasitas kamar sederhana yang dilengkapi dengan fasilitas listrik dan air bersih untuk rombongan yang akan menginap. Untuk kegiatan beribadah, juga disediakan musholla dengan kapasitas 50 orang.

GP4

Lokasi dan Pencapaian
Perjalanan dari Jakarta mengambil patokan ke Cianjur lewat Puncak Pass. Sampai di bundaran alun-alun Kota Cianjur ambil arah kiri yaitu arak ke Sukabumi. Jalan Cianjur-Sukabumi berlajur dua arah dengan aspal yang rusak sampai yang mulus. Jarak dari alun-alun ke pertigaan arah Gunung Padang berjarak sekitar 10 km. Di pertigaan ke arah Warung Kondang sudah ada petunjuk arah yang menandakan Situs Megalitikum Gunung Padang 20 kilometer, lalu belok kiri. Perjalanan di pertigaan pasar Warung Kondang Kampung Cilaku belok kiri memakan waktu sekitar 4-5 jam menuju ke arah lokasi situs memakan waktu sekitar 4-5 jam, melalui jalanan yang rusak dan setelah itu kita menemukan lagi penunjuk arah ke lokasi situs yang masih berjarak 6 km lagi. Perjalanan cukup menyenangkan, walaupun kontur jalan masih berbatu-batu, tetapi sudah memasuki area perkebunan teh milik PTPN VIII, dengan suasana pegunungan di kiri dan kanan serta jalanan yang sebagian sudah di aspal. Setelah menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 20 km, kita akan memasuki area situs dengan ditandai dengan terdapatnya gapura di depan tempat parkir situs, yang kondisinya sangatlah disayangkan karena huruf salah satu gapura dalam keadaan lepas dan belum diperbaiki. Kondisi halaman parkir masih baru dengan aspal yang mulus tepat di belakang gapura ini, dan selain itu juga disediakan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) bagi para pengunjung yang relatif bersih dan terawatt Jalan dari area parkir menuju lokasi situs curam dan berbatu-batu, dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki ataupun dengan menggunakan ojek. Sesampainya di atas, sebelum masuk ke area situs, selain terdapat pos untuk para pemandu wisata, yang juga berfungsi sebagai pusat informasi dari Situs Gunung Padang, para pengunjung yang akan naik ke area situs diwajibkan untuk membayar retribusi masuk sebesar Rp. 2000,- per orang.

Kondisi Fisik Dasar Topografi dan Filosofi
Punden berundak Gunung Padang terdiri dari lima teras yang dibangun dalam ukuran yang berbeda. Untuk menuju teras-teras punden berundak ini di masa lalu tampaknya sudah diatur sedemikian rupa, dengan jumlah anak tangga 370 yang terbuat dari balok batu dengan kemiringan 45° hingga 70°, bagi pengunjung yang tidak dapat menggunakan tangga asli karena curam, dapat mempergunakan jalan lain (tangga buatan) yang lebih landai melewati sisi kanan situs yang berjumlah 500 anak tangga. Bangunan berundak Gunung Padang dibangun dengan batuan vulkanik yang berbentuk persegi panjang, terdiri dari balok-balok batu yang belum dikerjakan dan dibentuk oleh tangan manusia dan diperkirakan berasal dari Gunung Padang Juga. Bangunan ini terdiri dari teras pertama sampai kelima, dimana setiap teras mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Teras pertama merupakan teras terbawah mempunyai ukuran paling besar kemudian berturut-turut sampai teras kelima, ukurannya semakin mengecil. Pada masing – masing teras terdapat bangunan-bangunan kecil berupa susunan batu yang merupakan :
a. Batu-batu tegak yang disusun secara berjajar membentuk segi empat, bujur sangkar, susunan berbanjar, dan lain-lain
b. Bangunan berteras dalam bentuk besar dan kecil, seperti terlihat pada teras pertama dan kedua
c. Kelompok menhir yang tidak teratur
d. Susunan batu bulat yang membentuk segi empat panjang seperti terlihat pada teras kedua

GP5

Filosofi Gunung Padang
Padang artinya tanah yang luas. Bisa juga berarti terang dalam bahasa Sunda. Interpretasi dari Gunung Padang adalah tempat yang bisa memberikan penerangan atau pencerahan. Bisa juga disebut sebagai Gunung yang bercahaya. Walaupun namanya gunung, situs ini lebih menyerupai bukit yang dikelilingi oleh pohon-pohon rimbun di sekelilingnya. Situs Gunung Padang terdiri dari 5 teras dimana terdapat 5 undakan batu untuk menuju dari satu teras ke teras berikutnya. Hampir 95% semua batuan mempunyai 5 sudut atau segilima. Situs ini dikelilingi oleh 5 bukit; Karuhun, Emped, Gunung Batu, Gunung Malati dan Pasir Malang serta berorientasi atau mengarah ke 5 gunung secara sejajar; Gunung Batu, Pasir Pogor, Gunung Kencana, Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Pada jamannya, situs Gunung Padang dibuat dan digunakan sebagai tempat persembahan dan peribadatan. Sebelum masuk ke dalam teras pertama ini, orang diwajibkan untuk mandi terlebih dahulu di sumur Cikahuripan atau air kehidupan yang lokasinya berada di pintu masuk situs Gunung Padang. Nama lain dari sumur ini adalah Banyu Susuk Tungga (Banyu artinya air, Susuk artinya menancap, Tungga artinya satu). Filosofinya adalah sebelum orang melakukan peribadatan, orang tersebut harus menyucikan dirinya terlebih dahulu. Kebersihan hati harus menancap/ mengarah kepada Yang Satu.

Teras 1
Halaman teras pertama mempunyai ukuran yang lebih besar, yang dipergunakan oleh orang banyak sebelum pemuja-pemuja meneruskan perjalanan dalam upacara menuju ke tingkat/teras yang lebih atas. Hal ini dapat dipahami karena di duga hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan masuk ke bangunan yang dianggap paling suci. Teras ini mempunyai bentuk trapesium, karena ukuran dari masing-masing sisinya berbeda. Teras pertama yang disebut juga sebagai Pamuka Lawang yang ditandai dengan 2 buah batu menyerupai tiang yang berdiri miring. Di teras ini terdapat Gunung Masigit yang berada di tengah-tengah, sebuah ruangan dengan dolmen dan 2 buah batu gamelan atau Sound Stone.

GP6

Teras 2
Teras kedua mempunyai bentuk yang lebih kecil daripada teras pertama. Pada permukaan terasnya terdapat bangunan besar dan kecil yang semuanya diperkirakan berjumlah 6 buah. Selain itu tampaknya masih ada bangunan kecil lainnya tetapi sudah tidak dapat diketahui lagi bentuknya, karena susunan batu bangunan-bangunan yang lain sudah tidak kelihatan lagi. Pada teras kedua ini terdapat batu-batu tegak yang mempunyai ukuran lebih besar daripada batu-batu tegak yang lain, yang berfungsi juga sebagai batas jalan. Di teras kedua, terdapat batuan yang disebut Eyang Mahkota Dunia atau Kehormatan Dunia Seseorang yang memperoleh kehormatan di dunia bukanlah orang-orang yang memiliki kekayaan, tetapi orang yang berbagi dari hasil kekayaan tersebut untuk orang lain. Berbeda dengan teras lainnya, untuk masuk ke dalam teras kedua ini harus memutar terlebih dahulu dan masuk melalui selatan. Di teras ini juga terdapat Batu Kursi yang digunakan sebagai tempat untuk bermusyawarah dan Batu Lumbung sebagai lambang kesejahteraan.

GP7

Teras 3
Teras ketiga berukuran lebih kecil daripada teras kedua. Pada teras ini juga ditemukan 5 buah bangunan yang hampir sebagian besar merupakan kelompok – kelompok batu tegak baik yang masih berdiri maupun sudah rubuh. Beberapa bangunan disusun dalam bentuk persegi empat atau melingkar. Di teras ketiga, ada batu yang disebut Kramat Tungga, yaitu batu dengan legok atau cetakan seperti kujang pada permukaannya. Kramat berarti tempat dan tunggal adalah satu. Sedangkan kujang menurut budaya sunda artinya sesuatu untuk dipegang atau “peganglah!”. Filosofi dari teras ini adalah untuk mengingatkan manusia kepada yang satu. Batu legok lainnya adalah Tapak Maung, sebuah batu besar dengan legok atau cetakan tapak kaki harimau.

Teras 4
Di teras keempat terdapat Bandung Tungga atau Batu Gendong. Bandung berarti agung dan Tungga berarti satu. Filosofi dari batu ini adalah agungkan yang satu. Batu tersebut merupakan sebuah “sambutan”, yaitu untuk menuju ke teras kelima seseorang harus kuat terlebih dahulu dan telah selesai menjalani proses dari teras pertama hingga teras keempat.

Teras 5
Teras ini terletak di bagian yang paling tertinggi, dan dianggap tempat yang paling suci dan merupakan tempat upacara – upacara yang paling sakral diadakan. Pada teras ini juga terdapat bangunan-bangunan kecil yang diduga merupakan kuburan purba. Teras kelima atau teras terakhir disebut juga sebagai Tempat Singgasana, sekaligus sebagai tempat akhir peribadatan. Disini terdapat sebuah tempat duduk yang disebut sebagai Batu Pandaringan. Batu panjang yang terbaring ini menghadap lurus ke arah 5 gunung (Gunung Batu, Pasir Pogor, Gunung Kencana, Gunung Gede dan Gunung Pangrango). Singgasana ini digunakan sebagai tempat berdoa ke arah Gunung Gede. Dapat dibayangkan ketika jaman dahulu, sebuah gunung dianggap sebagai kekuatan yang besar, dapat memberikan kesuburan di daerah sekitarnya sekaligus bisa memberikan bencana akibat letusannya.

Penafsiran filosofi dari Gunung Padang masih menjadi misteri. Ada beberapa penafsiran yang dihubungkan dengan Kerajaan Pajajaran, padahal situs ini dibangun jauh sebelum nenek moyang Kerajaan Pajajaran lahir. Beberapa riset mengenai situs Gunung Padang ditemukan bahwa Situs Megalitikum Gunung Padang adalah sebuah situs prasejarah yang dibangun untuk keperluan peribadatan dengan memperhatikan harmoni geomantik (posisi bangunan terhadap unsur-unsur alam di Bumi seperti gunung dan mata angin) dan astromantik (posisi bangunan terhadap garis edar rasi-rasi bintang, planet atau Matahari). Sebuah kearifan lokal dimana pada jaman dahulu, tanpa teknologi canggih, orang bisa membuat batu dengan ukuran segi lima yang tersusun rapih.