ABSTRAK – Pengembangan Kota Sawahlunto sebagai sebuah destinasi selama ini didasarkan pada citra Kota Sawahlunto yang lekat dengan bekas kawasan pertambangan. Namun sejauh ini pengembangan yang dilakukan cenderung mengaburkan citra kota tambang itu sendiri melalui pengembangan infrastruktur dan daya tarik wisata yang bersifat rekreatif dan cenderung mengabaikan otentitas daya tarik Kota Sawahlunto itu sendiri. Tulisan ini mencoba menerapkan salah satu pendekatan dalam penelitian kualitatif yakni grounded theory dalam mencoba membuat konstruksi teoritis konsep pengembangan destinasi berbasis geoheritage dengan menelaah aspek daya tarik yang ada di Kota Sawahlunto.

Kata kunci: grounded theory, geoheritage

PENDAHULUAN
Menginterpretasikan sebuah fenomena dalam kepariwisataan bukanlah sebuah perkara yang mudah. Berbagai macam pendekatan telah dilakukan seiring dengan semakin variatifnya berbagai motif dan preferensi serta tuntutan wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata. Area dari studi-studi tentang kepariwisataan telah berevolusi ke dalam berbagai disliplin ilmu mulai dari ilmu sosiologi, antroplogi, geografi, ekonomi hingga psikologi. Satu dari berbagai tantangan dalam menghadapi perkembangan studi kepariwisataan dan rekreasi adalah prevalensi studi berorientasi kuantitatif, empiris-analitis dengan studi tentang area lingkungan alam dan budaya, manajemen dampak, serta pengalaman, perilaku dan aktivitas wisatawan (Riley dan Love, 2000). Hal ini dapat dipahami bahwa aktivitas pariwisata sangat tergantung pada motif dan preferensi wisatawan yang semakin cenderung variatif.
Satu hal yang menarik adalah seringkali berbagai hasil penelitianmenjadi ambigu oleh karena realita yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan harapan penelitian. Oleh sebab itu pendekatan yang dilakukan pun mengalami perkembangan dan berbagai penyesuaian. Dari sekian banyak pendekatan yang digunakan dalam menginterpretasikan realita di lapangan adalah grounded theory. Tulisan ini mencoba mencari kaitan identitas Kota Sawahlunto sebagai kota bekas pertambangan dengan pembangunan kepariwisataan yang ada saat ini di Sawahlunto dengan pendekatan grounded theory.

GROUNDED THEORY
Grounded theory merupakan sebuah pendekatan inovatif dalam penelitian terutama dalam hal menginterpretasikan fenomena yang terjadi. Strauss dan Corbin (1998) menyebutkan grounded theory sebagai: “methodolog[ical tradition], a way of thinking about and studying realit[ies]”. Sementara itu Punch (1998) mendefinisikan grounded theory sebagai: “a strategy for research and a way of [interpreting empirical materials or] analysing data”. Strauss dan Corbin lebih jauh mengungkapkan grounded theory:“….is to generate theories regarding social phenomena: that is, to develop higher level understanding that is “grounded” in, or derived from, a systematic analysis of data”

Grounded theory pada awalnya didesain sebagai alternatif pendekatan metodologi dan strategi dalam penelitian di bidang sosial. Sebagai sebuah strategi penelitian grounded theory bergantung pada observasi partisipan dan sebuah metode (analisis) komparatif dibangun dalam kerangka membangun sebuah teori secara induktif (Jennings dan Junek,2007). Terdapat 4 tahap dalam membangun metode komparatif:

1) Membandingkan data yang dapat diaplikasikan ke dalam kategori konseptual
2) Mengintegrasikan kategori dengan atributnya
3) Membatasi teori yang muncul
4) Menulis (mengkonstruksi) teori

Dalam kasus Kota Sawahlunto, data yang diperoleh di lapangan dicoba diaplikasikan berdasarkan teori dan konsep pengembangan sebuah destinasi pariwisata. Data-data tersebut kemudian dicocokan dengan atribut-atribut (daya tarik, persepsi wisatawan dan masyarakat) yang ada di lapangan. Berdasarkan karakteristik eks kota tambang dari beberapa teori dan konsep yang ada, konsep yang ditawarkan (pembatasan teori) adalah pengembangan daya tarik Kota Sawahlunto berbasis heritage dan konsep Sawahlunto berbasis geotourism. Sebagai sebuah destinasi berbasis ruang (spatial) salah satu isu yang menarik yang juga dikemukakan dalam tulisan ini adalah otentitas.

Otentitas sebuah produk sangat berhubungan dengan kemampuan daya saing (competitive advantage) dalam bertahan produk-prouduk sejenis yang ditawarkan. Barney (1991) menyebutkan tingkat daya saing didasarkan pada kriteria:

Valuable, yang berarti mempunyai nilai jual;
Rare,sumber daya yang dimiliki oleh seharusnya tidak banyak dimiliki di tempat lain;
Imperfectly imitable,sumber daya yang dimiliki tidak mudah diimitasi atau dibuat tiruannya;
Non-substitutable, sumber daya yang ada tidak dapat diganti dengan sumber lainnya

PENGAPLIKASIANGROUNDED THEORY SEBAGAI DASAR MENGEMAS KOTA SAWAHLUNTO SEBAGAI ASIA’S GEOHERITAGE PARK

Berdasarkan penelitian dan pengamatan yang dilakukan di Kota Sawahlunto, beberapa teori yang diajukan sebagai teori dasar pengembangan Kota Sawahlunto adalah:
a) Geotourism
Geotourism secara umum dan dalam arti luas didefinisikan sebagai kegiatan pariwisata yang menopang atau meningkatkan karakter geografis tempat yang dikunjungi baik lingkungan, budaya, estetika, warisan budaya dan kesejahteraan penduduknya yang meliputi berbagai macam kegiatan (Stueve dkk., 2002).
b) Heritage tourism
Timothy dan Boyd (2003) mendefinisikan pariwisata pusaka sebagai berikut sebagai bentuk dari kunjungan ke saujana tertentu, situs bersejarah, bangunan atau monumen atau pengalaman dalam arti menyatu dengan alam atau merasa bagian dari sejarah tempat tertentu.

Sebagai sebuah kota yang berkembang dari area pertambangan pemerintahan Kolonial Belanda, Kota Sawahlunto mewarisi berbagai macam peninggalan infrastruktur pertambangan dan bangunan-bangunan yang pada saat itu berfungsi sebagai pusat administrasi dan penunjang operasional pertambangan serta tidak kalah menarik kisah-kisah yang mewarnai sejarah masyarakat pertambangan di Kota Sawahlunto.

Selama penelitian yang dilakukan di Kota Sawahlunto berdasarkan analisis data dari 37 responden, persepsi responden terhadap daya tarik Sawahlunto sebagai kota tambang didapatkan hasil 70% responden yang terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata setuju dengan potensi daya tarik wisata yang ada sekarang ini di Kota Sawahlunto yang berbasis eks kota tambang. Sedangkan masyarakat yang tidak terlibat langsung sebesar 47% menyatakan setuju.

Picture1

Berdasarkan data tersebut di atas dapat diasumsikan bahwa masyarakat masih mengindentikan Kota Sawahlunto dengan kota tambang sebagai magnet atau daya tarik utama bagi wisatawan untuk mengunjungi Kota Sawahlunto. Sebut saja sisa lubang bekas penambangan batubara yang dikenal dengan nama Lubang Mbah Soero, yang saat ini tetap menjadi salah satu ikon Kota Tua Sawahlunto, Goedang Ransoem serta beberapa gedung pemerintahan kolonial yang masih berdiri kokoh.

Responden masih menganggap Kota Sawahlunto identik dengan kawasan kota tua dimana terdapat berbagai macam peninggalan pengolahan tambang pada masa kolonial. Sementara itu responden juga menyatakan pilihan mereka untuk datang berekreasi lebih disebabkan karena harga fasilitas rekreasi yang ditawarkan jauh lebih terjangkau dan tidak tersedia di daerah sekitar tempat tinggal mereka.

Dari hal inilah sebuah konstruksi grounded theory geoheritage dimunculkan sebagai alternatif pengembangan Kota Sawahlunto sebagai sebuah destinasi. Pengembangan Kota Sawahlunto sebagai geoheritage park diharapkan dapat menstimulus pengembangan destinasi yang lebih terarah dan terfokus pada tema-tema pengembangan geoheritage.

Hal ini sesuai dengan konsep geoparks yang diusung oleh UNESCO, sebuah wilayah dimana terdapat situs pusaka geologis yang menjadi bagian dari konsep utuh proteksi, edukasi, pembangunan yang berkelanjutan, termasuk di dalamnya tema-tema non-geologis seperti situs-situs ekologis kepurbakalaan, alam, budaya, sejarah atau nilai-nilai budaya (UNESCO) yang di dalamnya terkandung pilar-pilar geotourism antara lain:

1) Perlindungan pusaka geologis (protection)
2) Transfer nilai-nilai regional kepada publik melalui pariwisata (value)
3) Menciptakan perekonomian yang berkelanjutan melalui pariwisata (economic)
4) Menciptakan identitas geologi regional (local identity)
5) Meningkatkan apresiasi terhadap objek dan proses geologi (edukatif)
6) Kerjasama secara aktif dengan stakeholder kepariwisataan (network)

Perlindungan terhadap pusaka geologis dari ekploitasi dan eksplorasi yang berlebihan tentunya dapat menghilangkan sama sekali daya tarik wisata yang ada sekarang ini. Melalui pengembangan Kota Sawahlunto sebagai destinasi pariwisata apresiasi terhadap daya tarik wisata berbasis aspek-aspek geologis. Masyarakat pun dapat terlibat dalam menjaga kelestarian alam yang ada di kawasan Kota Sawahlunto melalui usaha kepariwisataan seperti geoheritage guided-tour, usaha penginapan dan usaha-usaha pariwisata lainnya dengan memanfaatkan sumber daya alam (geologis-geomorfologis) di kawasan tersebut.

KESIMPULAN
Berdasarkan kajian terhadap kondisi potensi dan daya tarik Kota Sawahlunto, pengembangan konsep destinasi pariwisata “geoheritage park” menjadi sebuah alternatif yang signifikan. Kondisi alam serta budaya masyarakat setempat yang mendukung pengembangan destinasi berbasis aspek geologis-geomorfologis menjadi sebuah nilai tambah yang dimiliki oleh Kota Sawahlunto.Pengembangan infrastruktur kota yang mendukung tema geoheritage park secara terstruktur dan terencana sangat besar pengaruhnya terhadap kondisi alam, ekosistem, struktur ekonomi dan sosial budaya dalam menunjang tema tersebut. Dengan pembangungan infrastruktur kota yang baik yang menonjolkan peninggalan pabrik pengolahan batubara citra kota tambang akan semakin menguat. Dengan demikian pengembangan tema geoheritage park dapat terwujud tidak saja di Kota Sawahlunto tetapi dapat menjadi sebuah destinasi yang dikenal di kawasan Asia dan dunia.

Referensi
Barney (2010) Strategic Management and Perspective Advantage, Prentice Hall, UK
Jennings, Gayle dan Junek, Olga (2007) Grounded Theory: Innovative Methodology or a       ,Critical Turning from Hegemonic Methodological Praxis in Tourism Studies dalam Altevic, I., Pritchard, A. dan Morgan, N., Eds,The Critical Turn in
Punch, K. (1998). Introduction to social research — Quantitative and qualitative approaches,Sage, London, dalam Altevic, I., Pritchard, A. dan Morgan, N., Eds,The Critical Turn in Tourism Studies, Innovative Research Studies, Elsevier, UK
Stueve, A. M., Cook, S. D. and Drew, D. (2002). The Geotourism Study: Phase IExecutive Study.Travel Industry Association of America. dalam Ross K. Dowling dan David Newsome (2006) Geotourism, Eds., Elsevier, Oxford-USA
Timothy, D and Boyd, S. (2003) Heritage Tourism, Pearson Education Limited, Essex
Tongkul, Felix (2006) Geotourism in Malaysian Borneo dalam Dowling, R,K. dan Newsome, D., Eds., Geotourism, Elsevier, Oxford-USA