People Innovation Excellence

IMPLEMENTASI ACCESSIBLE TOURISM PADA BUS WISATA JAKARTA EXPLORER ‘MPOK SITI’

How to cite this article:

Lestari, Nurul Sukma., Wiastuti, Rachel Dyah., & Adiati, Maria Pia. (2017). Implementsi Accessible Tourism pada Bus Wisata Jakarta Explorer Mpok Siti. Jurnal Hospitality dan Pariwisata. Vol. 3 No.1 page 7-17. ISSN 24425222. Program Studi Hospitaliti dan Pariwisata Universitas Bunda Mulia

 

IMPLEMENTASI ACCESSIBLE TOURISM PADA BUS WISATA JAKARTA EXPLORER ‘MPOK SITI’

Nurul Sukma Lestari, Rachel Dyah Wiastuti, Maria Pia Adiati

nurul.lestari@binus.edu, rwiastuti@binus.edu, madiati@binus.edu

Hotel Management

Universitas Bina Nusantara, Jakarta

 

 ABSTRAK

Jakarta hadir dengan bus wisata tingkat yang disebut ‘Mpok Siti’, yang keberadaannya menjadi salah satu fasilitas pendukung bagi wisata perkotaan. ‘Mpok Siti’ haruslah dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali dan secara tidak langsung yaitu dengan cara mengaplikasikan konsep accessible tourism dalam rangka mendukung sustainable tourism. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi bus wisata Jakarta ‘Mpok Siti’ terhadap konsep accessible tourism. Metode penulisan yaitu kualitatif deskriptif dengan kajian pustaka dan dokumentasi sebagi sumber data primer. Keterbatasan jurnal terkait menjadikan berita dan artikel sebagai sumber data sekunder. Hasil penelitian mencakup deskripsi setiap komponen dari accessible tourism yaitu vertical movement, horizontal movement, information, signage, physical accessibility dan prices. Studi lebih lanjut dapat dilakukan pada semua jenis bus wisata yang bukan hanya di Jakarta namun juga di kota lain dan  melibatkan pihak manajemen bus wisata maupun penumpang.

Kata kunci: Bus wisata, Mpok Siti, Accessible tourism

 

ABSTRACT

‘Mpok Siti’ Jakarta tourism bus tour became one of support facilities for urban tourism that has to be accessible for everyone without exception. The purpose of this research is to acknowledge the implementation of the ‘Mpok Siti’ tourism bus tour towards accessible tourism concept. This is qualitative descriptive research. Literature study and documentation are applied as primary data sources. Lack of journal related to tourism bus accessibility concept acquired data obtained from news and articles. The results include a description of each component of accessible tourism which is vertical movement, horizontal movement, information, signage, physical accessibility, and prices. Further research should be conducted for all types of tourism bus tour located not only in Jakarta but also in other cities and involving bus tour management and passengers.

 Keywords: Bus wisata, Mpok Siti, Accessible tourism

Pendahuluan

Wisata kota adalah produk wisata, dimana didalamnya terdapat konsentrasi berbagai bentuk atraksi, amenitas dan kemudahan aksesibilitas yang dapat menarik penumpang baik dari domestik maupun internasional, termasuk wisatawan, para pelaku bisnis, dan konferensi (Priono, 2012). Jakarta, bukan hanya sebagai sebuah kota, namun juga Ibukota Negara Indonesia, menjadikannya berpotensi besar sebagai wisata perkotaan. Transportasi adalah komponen yang sangat penting untuk pariwisata karena transportasi memudahkan perjalanan antara di dalam maupun keluar negeri, dan memudahkan untuk mencapai tujuan wisata yang satu dan yang lainnya, memudahkan untuk mencapai penginapan maupun tempat-tempat yang lain yang berhubungan dengan destinasi pariwisata (Martines, 2015). Transportasi khusus pariwisata secara tetap mempunyai potensi untuk mendukung peningkatan kunjungan wisata (Basuki & Setiadi, 2015). Jakarta pun hadir dengan transportasi khusus pariwisata berupa bus tingkat yang disebut ‘Mpok Siti’. Standard fasilitas pelayanan bus pariwisata utamanya berkaitan dengan aspek kenyamanan, keamanan dan keselamatan penumpangnya (Astati, Triasih & Panahatan, 2010). Sedangkan menurut Novita (2016) sebuah bus pariwisata haruslah menyediakan informasi yang lengkap tentang objek wisata yang dilalui dan tersedianya tour guide, serta tersedianya fasilitas audio dan monitor. UNWTO (2013) mengatakan bahwa aksesibilitas merupakan elemen utama dari pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan, dan salah satunya yaitu melalui penerapan accessible tourism. Maka ‘Mpok Siti’ juga harus dapat mengimplementasikan konsep accessible tourism agar dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali. Accessible Tourism memberikan keuntungan untuk semua orang, bukan hanya mereka kelompok disabilitas dan berkebutuhan khusus (Rifai dalam UNWTO, 2013). Accessible Tourism memungkinkan orang disabilitas dapat secara independen melakukan perjalanan wisata (Darcy & Dickson, 2009). Tujuan penelitian ini untuk (1) mengetahui bagaimana implementasi ‘Mpok Siti’ terhadap konsep accessible tourism, dan (2) menganalisis elemen accessible tourism yang sudah diterapkan dan yang belum diterapkan.

Kajian Pustaka

Aksesibilitas adalah elemen utama dari setiap kebijakan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Ini adalah merupakan hak asasi manusia dan kesempatan bisnis yang luar biasa. Di atas semua itu, kita harus menyadari bahwa pariwisata yang dapat  diakses oleh semua orang tidak hanya menguntungkan para penyandang cacat atau kebutuhan khusus; itu menguntungkan kita semua (Rifai UNWTO, 2013).  Melakukan perjalanan dengan memiliki keterbatasan lebih dari hanya sekedar aksesibilitas (Yau et  al., 2004).

Disabilitas

Disabilitas adalah cacat yang  dianggap sebagai kondisi medis atau biologis dikaitkan dengan orang tertentu, disfungsi yang perlu diperbaiki dengan pengobatan atau rehabilitasi (UNWTO 2013). Menurut WHO (2015) dan Convention on the Rights of Persons with Disabilities (2006) Art. 1 (dikutip dari Zajadacz, 2015) disabilitas adalah keterbatasan atau berkurangnya karena melemahnya kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan dalam rentang waktu tertentu ataupun permanen yang dianggap normal bagi manusia, sebagai contoh (1) orang dengan mobilitas rendah, (2) orang dengan pandangan kabur, (3) orang yang tidak dapat melihat, (4) orang dengan ganguan pendengaran, (5) orang dengan keterbelakangan mental, (6) orang yang bepergian dengan anak kecil yang menggunakan kereta bayi, (6) orang yang kesulitan dalam berjalan, dan (7) orang dengan kursi roda

Accessible Tourism

Menurut UNWTO (2015), accessible tourism as tourism that is open to enjoyment by everyone irrespective of their physical, social or cultural conditions. Darcy & Dickson (2009) mengatakan bahwa accesible tourism memungkinkan penyandang disabilitas seperti ganguan pada mobilitas, penglihatan, pendengaran dan dimensi kognitif, tetap dapat secara independen untuk melakukan wisata. Definisi  ini juga berlaku untuk orang yang berpergian dengan anak kecil, orang dengan disabilitas dan orang tua. Accessible tourism juga harus mencakup semua level dari kelompok tertentu yang kurang mendapatkan perhatian pada industry pariwisata (Miller & Kirk, 2002).

Accessible Tourism Component

(1) Vertical Movement Accessibility. Perbedaan tingkat ketinggian dari jalanan haruslah tidak ada celah karena itu setiap elemen seperti tangga harus didesain sesuai dengan parameter yang sudah ditentukan.

(2) Horizontal Movement Accessibility. Pengaturan yang cermat haruslah dilakukan agar orang dengan disabilitas dapat bergerak dengan bebas.  Pintu masuk dan jalan haruslah bebas dari penghalang dan cukup lebar untuk dua kursi roda berpapasan dan tidak menghalangi jalanan untuk yang lain.

(3) Information Accessibility. Informasi yang tersedia haruslah dapat dimengerti  oleh penumpang yang tuna rungu dan tidak dapat melihat.  Semua informasi harus tersedia dalam bentuk tulisan dan audio.

(4) Signage Accessibility. Pengumuman haruslah dalam bentuk visual (layar besar atau electronic boards). Accessible service dan fasilitas harus memiliki tanda  dengan simbol yang mudah dimengerti dengan ukuran huruf dan warna yang sangat berbeda dengan latar belakangnya. Informasi untuk umum harus mencantumkan waktu  untuk melakukan kegiatan tersebut dan harus tersedia dengan berbagai macam format untuk berbagai macam disabilitas tanpa memberikan tambahan harga. Fire alarm harus tersedia visual dan acoustic signals.  Tanda emergency exit harus jelas (tidak terhalang apapun).

(5) Physical Accessibility. Harus ada area parkir khusus dengan tanda yang jelas yang diperuntukan untuk penumpang yang letaknya sedekat mungkin dengan pintu masuk dan keluar dari gedung atau fasilitas wisata. Harus ada area khusus untuk menaikan atau menurunkan penumpang yang letaknya dekat dengan gedung atau tempat wisata untuk memfasilitasi kedatangan dan keberangkatan dari penumpang dengan disabilitas.  Area parkir individual harus cukup lebar untuk penumpang dengan disabilitas untuk bergerak diantara mobil dengan  kursi roda dan letaknya disesuaikan agar penumpang dengan kursi roda, tongkat ataupun kaki palsu tidak perlu jalan memutar.  Akses jalan yang menuju lokasi wisata haruslah aman bagi semua pejalan kaki.

(6) Prices Accessibility. Jika memungkinkan penyedia jasa pariwisata harus menyediakan infrastruktur dan pelayanan untuk penumpang disabilitas. Biaya untuk mengimplementasikan physical accessibility haruslah termasuk dalam budget untuk merawat ataupun menambah fasilitas tersebut.  Penambahan biaya yang diperlukan untuk menyediakan fasilitas dan pelayanan untuk accessible tourism tidak boleh ditambahkan kedalam harga tiket untuk penumpang disabilitas

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian kualitatif, desain dapat disusun sebelumnya secara tidak lengkap, dan kemudian pada saat mulai digunakan dapat dilengkapi dan disempurnakan (Moleong, 2004). Sifat penelitian ini adalah deskriptif, yang menjelaskan mengenai gambaran dari sebuah fenomena tanpa menghubungkannya dengan fenomena lain (Soeprapto & Sumarah, 2007) dan menggambarkan realitas yang sedang terjadi tanpa menjelaskan hubungan antarvariabel (Kriyantono, 2012). Observasi dan kajian pustaka menjadi sumber data primer. Observasi dilakukan pada Januari 2017 pada salah satu jalur bus wisata untuk rute penuh. Observasi dilakukan secara langsung oleh ketiga peneliti menggunakan panduan observasi yang telah dibuat sebelumnya berdasarkan komponen accessible tourism oleh UNWTO yang terdiri dari enam bagian yaitu; vertical movement, horizontal movement, information, signage, physical accessibility dan prices.   

Hasil

Tentang Bus Wisata Jakarta Explorer

TransJakarta adalah sebuah sistem transportasi Bus Rapid Transit (BRT) pertama di Asia Tenggara dan Selatan yang beroperasi sejak tahun 2004 di Jakarta, Indonesia.  TransJakarta dirancang senagai moda transportasi massal pendukung aktivitas Ibukota yang sangat padat.  Pada Februari 2014, TransJakarta untuk pertama kalinya mengeluarkan bus wisata keliling Jakarta. PT. Transportasi Jakarta mengelola 18 bus tingkat yang digunakan sebagai sarana transportasi wisata yang dapat digunakan secara gratis oleh seluruh warga di Ibukota. Bus wisata Transjakarta ini disebut dengan bus Jakarta Explorer. Bus Jakarta Explorer saat ini memiliki empat rute wisata yang berbeda. Bus ini beroperasi dengan menelusuri ikon dan landmark yang ada di kota Jakarta (www.transjakarta.co.id).

Bus Wisata Jakarta Explorer ini mendapatkan nama gaulnya ‘Mpok Siti’ karena semua pengemudi busnya adalah wanita atau “Mpok”, sedangkan “Siti” merupakan plesetan dari city (www.travel.kompas.com). Bus menggunakan istilah BW yang merupakan kepanjangan dari Bus Wisata dan setiap bus menggunakan kode berdasarkan dengan rute masing- masing yaitu BW1, BW2, BW3 dan BW4 seperti dapat dilihat pada Gambar 1

BW1 adalah rute untuk sejarah Jakarta (History of Jakarta), ditandai oleh warna hijau pada peta, memiliki 8 titik pemberhentian (Juanda, Monas2, Balai Kota, Museum Nasional, Gedung Arsip, Museum Bank Indonesia, BNI 46, Pasar Baru). BW1 beroperasi pada hari Senin – Sabtu pk 09.00- pk 17.00 dan Minggu pk 12.00- pk 19.00. BW2 adalah rute untuk Jakarta baru (Modern Jakarta), ditandai oleh warna merah pada peta, memiliki 9 titik pemberhentian (Juanda, Monas1, Monas2, Balai Kota, Sarinah, Plaza Indonesia, Pecenongan, Pasar Baru). BW2 beroperasi pada hari Senin – Sabtu pk 09.00- pk 17.00 dan Minggu pk 12.00- pk 19.00. BW3 adalah rute untuk kesenian dan kuliner (Art & Culinary), ditandai oleh warna biru pada peta, memiliki 8 titik pemberhentian (Juanda, Monas2, Balai Kota, Harmoni, Gedung Arsip, Museum Bank Indonesia, BNI 46, Sawah Besar, Pecenongan). BW3 beroperasi pada hari Sabtu pk 17.00 – pk 23.00. BW4 adalah rute untuk pencakar langit Jakarta (Jakarta Skyscrappers), ditandai oleh warna kuning pada peta, memiliki 15 titik pemberhentian (Juanda, Monas1, Monas2, Balai Kota, Sarinah, Tosari, Sudirman, Karet, Bundaran Senayan, Gelora Bung Karno, Dukuh Atas, Plaza Indonesia, Museum Nasional, Pecenongan, Pasar Baru). BW4 beroperasi pada hari Senin – Sabtu pk 09.00- pk 17.00 dan Minggu pk 12.00- pk 19.00

Gambar 1. Peta Bus Wisata Jakarta Explorer

Sumber : http://transjakarta.co.id

Fasilitas Bus Wisata Jakarta Explorer ‘Mpok Siti’

Bus ini merupakan bus berlantai atas atau yang sering disebut dengan double decker. Tersedia 60 tempat duduk yang terbagi menjadi 41 tempat duduk berada di lantai atas dan 19 tempat duduk berada di lantai bawah. Dari sisi tenaga kerja, terdapat satu pengemudi yang semuanya adalah wanita dan satu bus attendant (onboard) yang bertugas untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh penumpang.

Terdapat dua tempat untuk kursi roda (Priority space) yang tersedia di lantai bawah, yang letaknya dekat dengan pintu masuk bus yang berada di tengah. Bus ini dilengkapi dengan penyejuk udara (AC) baik dilantai atas maupun bawah. Terdapat dua buah tempat sampah, satu per masing- masing lantai. Desain tempat sampah dengan menggunakan tutup sehingga faktor kebersihan tetap terjaja dan posisi letaknya tidak dapat digeser.

Terdapat enam buah kamera pengaman (CCTV) yang terbagi menjadi tiga CCTV per lantai. Adapun posisi dari kamera ini ada di bagian dalam di dekat supir, di tengah dan di bagian belakang dekat dengan kursi penumpang bagian paling belakang, demikian juga yang terletak di lantai atas, letaknya sama dengan yang berada di lantai bawah, yaitu di depan tengah dan belakang.

Terdapat dua LCD, satu per lantai, terletak di bagian depan, namun keduanya tidak dioperasikan selama bus berjalan. Terdapat  lima buah APAR (Alat Pemadam Api Ringan); dua buah di tingkat atas dan tiga buah di lantai bawah. Pada lantai  atas, APAR terletak di bagian depan dan belakang dan tidak menghalangi jalan. Pada lantai bawah, APAR terletak di bagian depan dekat pintu depan, dibelakang kursi penumpang paling belakang dan di bagian tengah menempel pada dinding dibawah tangga.

Terdapat sembilan palu pemecah kaca (glass breaker hammer) yang menempel di kaca; enam di lantai atas (tiga di sayap kiri dan tiga di sayap kanan) dan tiga di lantai bawah (satu di sayap kiri dan dua di sayap kanan). Palu ini berfungsi pada keadaan darurat untuk memecahkan kaca bus sehingga penumpang dapat keluar. Dari total 9 palu, hanya satu palu yang disampingnya tidak terdapat stiker keterangan (dalam Bahasa Indonesia) yang bertuliskan “Pecahkan kaca dalam keadaan darurat”.

Terdapat dua buah tombol emergency knob button pada kedua pintu bus di lantai bawah, terletak di langit langit persis dibagian pintu, yang berfungsi untuk membuka pintu secara manual pada keadaan darurat tanpa perlu menggunakan tombol yang terdapat pada kendali pengemudi

Gambar 2. Fasilitas Bus Wisata Jakarta Explorer ‘Mpok Siti’

Sumber: Facebook Jakarta Bisa

Vertical movement accessibility

Bus wisata memiliki dua akses utama untuk pintu masuk dan juga sebagai pintu keluar dan satu akses pintu darurat yang semuanya terletak pada lantai bawah. Pada kedua akses pintu utama pada lantai bawah, perbedaan ketinggian bus dengan ketinggian halte termasuk normal dan dapat dijangkau baik oleh orang dewasa maupun anak- anak. Untuk penumpang yang menggunakan kursi roda akses masuk dan keluar dilengkapi dengan ramp yang dapat dibuka jika memang dibutuhkan. Ramp ini terdapat di bagian pintu tengah. Sedangkan akses dari lantai bawah ke lantai atas hanya dapat dijangkau dengan menggunakan tangga. Tangga landai dengan jumlah kurang lebih 15 anak tangga, dilengkapi dengan pegangan yang terpasang di dinding bus, serta tiap anak tangga dilapisi dengan karpet anti slip berwarna hitam, sehingga walaupun basah tidak akan membahayakan bagi penumpang pada saat naik ataupun turun.

Horizontal movement accessibility

Pada saat bus berjalan tidak ada penumpang yang diperbolehkan berdiri ataupun berjalan di dalam koridor bus.  Hanya bus attendant yang diperbolehkan bergerak di dalam bus pada saat bus berjalan.  Jarak antara kursi penumpang cukup lebar untuk dua orang.  Pada lantai bawah di bagian depan dan bagian belakang kursi penumpang terdapat perbedaan ketinggian yang cukup signifikan. Pada bagian pintu darurat diletakkan beberapa alat kebersihan yang dapat menghalangi akses. Untuk koridor baik lantai bawah dan lantai atas, semuanya bebas dari halangan fisik. Tempat sampah diletakkan pada posisi yang tidak menghalangi akses jalan.

Information accessibility

Informasi tentang Bus Wisata Jakarta Explorer ‘Mpok Siti’ dapat diakses dari beberapa sumber online resmi yaitu akun resmi TransJakarta, Jakarta City Map dan Facebook Jakarta Bisa. (1) Akun TransJakarta terdiri dari website, facebook, twitter, dan instagram, dan dapat dikatakan terdapat informasi lengkap rute dan waktu operasional semua bus wisata. (2) Jakarta City Map dicetak oleh Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan tersedia di Tourist Information Centre yang terletak di Djakarta Theatre, Bandara SoekarnoHatta, Monas, Museum Tekstil dan Mal FX Sudirman. Keterangan yang terdapat di dalam Jakarta City Map, hanyalah keterangan bahwa bus gratis, memiliki 60 kursi penumpang dan beroperasi selama 10 jam per hari, tidak ada rute dan waktu operasional. Sedangkan untuk sumber online non resmi lainnya terdapat beberapa artikel wisata yang mengulas tentang bus wisata ini. Alat informasi lainnya yaitu keberadaan dua buah LCD yang masih dalam tahap  perbaikan. Sumber informasi juga didukung oleh keberadaan bus attendant (onboard) yang dapat memberikan informasi seputar tempat wisata yang dilalui. Selain itu, bus attendant juga memberitahukan nama halte secara manual dengan cara menyuarakan nama halte dengan lantang hingga terdengar sampai lantai atas. Hal ini bertujuan sebagai pengingat bagi seluruh penumpang jika hendak turun di halte tertentu. Cara ini juga berperan sebagai pengganti audio, khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan untuk mengacu pada running text. Terdapat satu buah jam digital dengan ukuran 20×10 cm yang terdapat diatas kursi penumpang paling depan sebelah kiri. Angka pada jam digital masih dapat terbaca bahkan oleh penumpang yang duduk di kursi tengah.

Signage accessibility

Pada bagian depan bus terdapat running text yang berukuran kurang lebih 90×30 cm dengan bertuliskan kode bus dan rute yang dilewati. Tulisan berwarna merah sehingga mudah terbaca dari jarak kurang lebih lima meter.  Pada bagian dalam bus juga terdapat running text dengan ukuran yang sama, terletak di bagian muka sejajar dengan pengemudi, menempel di kaca depan sebelah kiri.  Tulisan juga berwarna merah dengan keterangan rute yang dilewati.  Running text ini mudah untuk dibaca bahkan oleh penumpang yang duduk di kursi bagian belakang. Pada akses pintu darurat terdapat stiker warning signage, dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris), berwarna merah dengan ukuran 30×30 cm, yang bertuliskan “Emergency Exit- Penumpang dilarang melewati pintu ini kecuali dalam keadaan darurat (No passengers are allowed to use this door unless for emergency)”

Pada sayap kanan lantai bawah, terdapat stiker pemberitahuan yang berisi keterangan nomer seri bus, nomor telepon, website, email, facebook, twitter dan instagram bus wisata ini. Penempatan letak stiker tepat setelah akses pintu masuk utama dan sebelum tangga naik ke lantai atas, sehingga penumpang yang duduk baik di lantai bawah maupun atas dapat melihat stiker ini dengan jelas. Warna orange dari stiker ini juga berfungsi menjadi daya tarik dan menjadikan stiker ini sangat terlihat dibandingkan  area sekitarnya. Diatas stiker informasi, terdapat stiker dengan ukuran yang lebih besar, berbahasa Indonesia bertuliskan ‘Gratis’. Penempatan stiker ‘Gratis’ ini juga sangat strategis dapat terlihat langsung pada saat penumpang naik. Hal ini juga berfungsi untuk menghindari kemungkinan adanya pungutan tidak resmi dari oknum tertentu. Pada dua priority space di lantai bawah, masing- masing dilengkapi dengan stiker pictogram, latar belakang berwarna biru dan gambar berwarna putih yang menggambarkan orang yang menggunakan kursi roda. Stiker berukuran cukup besar dan terlihat sangat jelas walaupun tidak ada keterangan tertulis apapun.

Physical accessibility

Halte bus yang dipakai Bus Wisata Jakarta Explorer sama dengan halte bus yang dipakai untuk transportasi umum.  Terdapat dua fasilitas penunjang yang membedakan halte bus mana yang dilalui Bus Wisata Jakarta Explorer ini. Fasilitas penunjang yang pertama yaitu adanya tiang dengan plang berukuran kurang lebih 50×50 cm yang bergambar pictogram bus yang dibawahnya bertuliskan “City Tour”. Fasilitas penunjang yang kedua yaitu terdapat tiang dengan tiga keterangan; (1) pictogram bus dengan tulisan ‘Stop’, (2) tulisan ‘Bus Wisata TransJakarta’, dan (3) peta bus wisata (city tour bus service map). Peta ini hanya dicetak pada selembar kertas ukuran HVS kemudian dilaminating dan ditempelkan di tiang yang ada di setiap halte dengan seadanya menggunakan double tape.  Cara menempelkan peta seperti ini menjadikan peta mudah untuk terlepas ataupun rusak akibat faktor cuaca.

Terdapat enam klasifikasi Informasi yang terdapat dalam peta bus wisata; (1) kode bus, nama rute dan jam operasional dari bus wisata, (2) peta rute bus wisata, (3) keterangan bahwa bus adalah gratis, dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris), (4) keterangan bahwa penumpang hanya bisa naik dan turun di halte yang sudah ditentukan, dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris), (5) keterangan keakuratan dari peta tersebut, (6) keterangan alamat kantor dari TranJakarta, nomer telepon hunting yaitu 1500102, alamat web resmi dan akun media sosial.

Tidak semua halte bus wisata letaknya berdekatan dengan area parkir kendaraan contohnya pada halte Balai Kota, Pecenongan, Juanda, Pasar Baru, Tosari. Namun pada beberapa titik, halte terletak cukup dekat dengan sarana parkir kendaraan, contohnya pada halte Sarinah dekat dengan area parkir Gedung Sarinah, pada halte Museum Nasional dekat dengan area parkir Museum Nasional. Untuk karcis tidak diperlukan pemesanan terlebih dahulu. Jadi pada saat penumpang naik bus, bus attendant langsung memberikan tiket.  Keterangan yang terdapat di dalam tiket adalah tulisan transjakarta, tiket layanan gratis, ketentuan untuk apa tiket tersebut, dan nomor tiket.  Tiket tersedia dalam Bahasa Indonesia dengan ukuran 5×5 cm.

Price accessibility

Untuk dapat menikmati Bus Wisata Jakarta Explorer, penumpang tidak dikenakan biaya apapun atau gratis, baik penumpang lokal maupun penumpang asing, baik orang dewasa maupun anak kecil ataupun orangtua, baik penumpang dengan disabilitas maupun non disabilitas. Hal ini sudah diberlakukan sejak pertama kali Bus Wisata diresmikan pada Februari 2014 dan tetap berlaku hingga sekarang (Februari 2017). Bertambahnya jumlah armada dan semakin meningkatnya pelayanan dan fasilitas yang diberikan oleh manajemen Bus Wisata Jakarta Explorer tidak menjadikan Bus Wisata ini berbayara atau membebankan biayanya kepada penumpang.

Analisis

Mengacu pada vertical accessibility, Bus Wisata Jakarta Explorer telah dilengkapi ramp sehingga penumpang dengan kursi roda dapat menaiki bus wisata ini. Akses untuk menuju lantai atas tersedia tangga yang hanya cukup untuk satu orang, sehingga penumpang harus bergantian untuk naik dan turun. Kondisi ramp dan tangga aman untuk keselamatan penumpang. Mengacu pada horizontal accessibility, Bus Wisata Jakarta Explorer memiliki lebar koridor yang cukup untuk dua orang berpapasan. Koridor juga bebas dari hambatan fisik. Namun pada lantai bawah bagian depan dan bagian belakang kursi penumpang terdapat perbedaan ketinggian yang dapat menyebabkan penumpang terantuk atap. Mengacu pada information accessibility, Bus Wisata Jakarta Explorer dapat diakses melalui beberapa media online, walaupun tidak semua media menyediakan informasi secara lengkap dan update. Informasi yang tersedia mayoritas dalam bahasa Indonesia, sehingga akan menyulitkan bagi turis asing untuk mengakses informasi secara detail.  Demikian juga tidak tersedianya audio di beberapa bus akan menyulitkan untuk penumpang dengan disabilitas tidak dapat melihat. Visual informasi berupa running text tersedia pada hanya pada bagian bus lantai bawah, dan tidak pada lantai atas. Mengacu pada signage accessibility, Bus Wisata Jakarta Explorer dilengkapi dengan beberapa stiker signage yaitu emergency exit signage, glass breaker hammer signage, fire extinguisher signage. Signage ada yang tersedia dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris) dan ada yang hanya berbahasa Indonesia.  Signage yang kurang yaitu directional signage sebagai petunjuk arah misalnya menuju ke emergency exit dan warning signage terkait keselamatan dan keamanan. Mengacu pada physical accessibility, Bus Wisata Jakarta Explorer dilengkapi dengan halte yang sama dengan halte transportasi umum lainnya. Terdapat fasilitas penunjang yang membedakan halte yang dilewati bus wisata. Fasilitas penunjang tersebut cukup memberikan informasi bagi calon penumpang. Letak halte bus wisata ada yang berdekatan dan ada yang cukup jauh dari akses area parkir kendaraan. Mengacu pada prices accessibility, Bus Wisata Jakarta Explorer tersedia gratis untuk semua penumpang dan untuk semua rute.

Mengacu pada keenam komponen accessible tourism, Bus Wisata Jakarta Explorer Mpok Siti sudah dapat dikatakan mudah diakses oleh orang non disabilitas, orang tua, orang berpegian dengan anak tanpa kereta bayi, orang dengan pandangan kabur, orang dengan keterbatasan pendengaran, orang dengan mobilitas rendah, orang dengan keterbelakangan mental, orang yang kesulitan dalam berjalan. Dalam kata lain, Bus Wisata Jakarta Explorer Mpok Siti masih sulit diakses oleh orang dengan keterbatasan penglihatan dan orang berpergian dengan anak menggunakan kereta bayi. Hal ini disebabkan karena tidak adanya fasilitas pendukung penglihatan seperti huruf braille dan fasilitas untuk menyimpan kereta bayi.

Simpulan

Keberadaan Bus Wisata Jakarta Explorer Mpok Siti menjadi salah satu daya tarik bagi wisata kota. Selain tidak dipungut biaya, bus wisata ini tersedia dalam beberapa pilihan rute dan pilihan waktu yang cukup banyak. Bus wisata juga harus mengacu pada konsep pariwisata yang berkelanjutan yang salah satunya dengan mengaplikasikan konsep accessible tourism, yang artinya dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali. Implementasi accessible tourism pada Bus Wisata Jakarta Explorer Mpok Siti mencakup enam komponen, yaitu vertical movement accessibility, horizontal movement accessibility, information accessibility, signage accessibility, physical accessibility, dan prices accessibility. Komponen yang sudah baik dan harus dipertahankan yaitu vertical movement accessibility, horizontal movement accessibility dan prices accessibility. Sedangkan komponen yang harus ditingkatkan yaitu information accessibility, signage accessibility, dan physical accessibility. Michopoulou et al. (2015) berpendapat bahwa untuk meningkatkan aksesibilitas sebuah fasilitas, termasuk transportasi memerlukan kerjasama semua pihak, yang kemudian dapat menjadi keunggulan kompetitif destinasi wisata. Industri pariwisata pada akhirnya akan mendapatkan keuntungan dari aplikasi aksesibilitas (Bowtell, 2015).


Daftar Pustaka

Basuki, Imam & Setiadi, Amos. (2015). Potensi Angkutan Umum Pariwisata. Diakses pada from UNILA.AC.ID: http://eng.unila.ac.id/wp-content/uploads/2015/08/RT170.pdf

Bowtell, James. (2015),”Assessing the value and market attractiveness of the accessible tourism industry in Europe: a focus on major travel and leisure companies “, Journal of Tourism Futures, Vol. 1 Iss 3 pp. 203 – 222. Permanent link to this document:

http://dx.doi.org/10.1108/JTF-03-2015-0012

Darcy, S. &. Dickson. (2009). A whole-of-life approach to tourism: The case for accessible tourism. Journal of Hospitality and Tourism Management,Vol. 16,No. 1 , 32-44. doi: 10.1375/jhtm.16.1.32.

Astati, Dhian Indah., Triasih., & Panahatan. (2010). Transportasi Bus Pariwisata Kepada Konsumen. Laporan Penelitian Universitas Diponegoro. Diakses pada http://journal.usm.ac.id/elibs/USM_90fflap.penelit.standar%20pelayanan.pdf

Kriyantono, R. (2012). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Martinez, Luis. (2015). The role of transport in sustainable tourism growth. Diakses pada

http://2015.internationaltransportforum.org/sustainable-tourism

Michopoulou, Eleni., Simon Darcy, Ivor Ambrose, & Dimitros Buhalis. (2015),” Accessible tourism futures: the world we dream to live in and the opportunities we hope to have “, Journal of Tourism Futures, Vol. 1 Iss 3 pp. 179 – 188. Permanent link to this document: http://dx.doi.org/10.1108/JTF-08-2015-0043

Miller, G. and Kirk, E. (2002). “The Disability Discrimination Act: time for a stick?”. Journal  of  Sustainable Tourism. Vol. 10 No. 1, pp. 82-8

Moleong, L. J. (2004). Metode Penelitian Kualitatif. Cetakan ke-18. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

Novita, Etika. (2016). Kualitas Pelayanan Bus Tingkat Wisata City Tour Jakarta Sebagai Transportasi Khusus Pariwisata Di Kota Jakarta. UGM; Yogyakarta. Diakses pada

http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?act=view&buku_id=100617&mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&typ=html

United Nation World Tourism Organization (UNTWO). (2013). Manual on Accessible      Tourism for All; public private partnership and good practices. UNWTO      Publications and Foundation ACS; Madrid, Spain

United Nation World Tourism Organization (UNTWO). (2015). Recommendations on       Accessible Tourism. UNWTO Publications; Madrid, Spain

Priono, Y. (2012). Identifikasi Produk Wisata Pariwisata Kota (Urban Torism) Kota Pangkalan Bun Sebagai Urban Heritage Tourism. Jurnal Perspektif Arsitektur. Vol. 7 / No.2. Diakses pada

http://www.jurnalperspektifarsitektur.com/download/(Jurnal%20PA%20Vol.07%20No.02%202012)-IDENTIFIKASI-PRODUK-WISATA-PARIWISATA-KOTA.pdf

Soeprapto, & Sumarah, S. R. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.

Yau, M.K.S., McKercher, B. and Packer, T.L. (2004). “Traveling with a disability: more than an access issue”. Annals  of  Tourism  Research. Vol. 31 No. 4, pp. 946-60.

Zajadacz, Alina. (2015),” Evolution of models of disability as a basis for further policy changes in accessible tourism “, Journal of Tourism Futures, Vol. 1 Iss 3 pp. 189 – 202. Permanent link to this document: http://dx.doi.org/10.1108/JTF-04-2015-0015

www.transjakarta.co.id

https://www.facebook.com/public/Jakarta-Bisa

 


Published at : Updated

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close